Ramadhan Terasa Sebentar, Lebaran Pun Sebentar

1 min read

Berpuisipun tak ketinggalan, setahun sekali mendadak satrawan, abis ituuuu yang si sastrawan pulang, lebaran liburan. Lebaran oh lebaran… sebentar doang“–

Ya, seperti kita ketahui bersama bahwasaannya bulan suci Ramadhan 1433 H sesuai dengan keputusan dan ketetapan Menteri Agama Indonesia jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012, walaupun ada beberapa umat islam menetapkan 1 ramadhan pada sehari sebelumnya, tapi buatku tak begitu jadi masalah, agama islam mengajarkan hal – hal kebaikan walaupun kita tak bisa pungkiri setiap kehidupan pasti ada sedikit perbedaan, aku mempercayai bahwa agama lain pun begitu, tugas kita sebagai insan sempurna yang di beri akal sehat tuk berpikir dan mencerna segala masalah kehidupan perlu bertoleransi, dan mengatasi segala perbedaan dengan cara bijak dan membaikan bagi sesama.

Saat ini tepat pada hari Jum’at 3 Agustus 2012 atau hari ke – 13, saat puasa ke – 13 tahun pertama ku, Lebaran di kampung inggris mulai tak lagi bergairah, tiap ruas jalan mulai lengang sebab yang di hari – hari sebelum ramadhan tiba para member kursusan tampak masih bertekun dengan kegiatan belajar – mengajar. Kini yang tersisa hanya sedikit para member, pengurus kursusan dan penduduk lokal yang masih saja setia beribadah, dan mengisi suraunya tuk sembahyang lima waktu, salat tarawih, tadarus, kultum maupun beriktikaf. Saat seperti ini roh desa tulung rejo dan pelem muncul, sejatinya desa yang tak sepadat kota. Beberapa member bermudik ke kampung halaman, menikmati sisa hari – hari ramadhan bersama keluarga besar terkasih, ya aku pun memang rindu ramadhan di kampung halaman ku sendiri, saat ramai – ramai pergi bergegas sekeluarga berangkat tarawih ke surau, yang di akhir salat witir dapat “Jaburan” (Makanan ringan yang dibagi – bagikan setelah salat sunah tarawih & witir kepada jama’ah yang memang sudah di sediakan oleh salah satu keluarga yang mendapat jatah bergilir dari panatia ramadhan), Jaburan tersebut adalah tradisi di kampung halamanku, bagaimana di kampung halamanmu ? 🙂

Ada hari sakral di awal bulan syawal setelah umat islam berpuasa menahan lapar, menjaga tutur kata, perilaku, menahan nafsu amarah, berlomba – lomba dalam kebaikan, bersedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak yatim piatu selama 1 bulan penuh ramadhan, dan berzakat fitrah malam sebelum ramadan berakhir yaitu tiba saatnya “Idul Fitri” hari kemenangan atau hari raya besar umat islam seluruh dunia. Malam sebelum Idul fitri serempak seluruh umat islam mengumandangkan gema takbir, tabuhan bedug, pawai obor ke jalan – jalan, semua bersuka cita, Subhanallah ! Dahsyat bukan ? hehe  🙂

Saat setelah subuh tibalah kita beramai – ramai pula lekas pergi ke masjid besar atau tempat lapang di sekitar tuk menunaikan ibadah salat ied, lalu yang setelah itu segera menyerbu kupat, opor daging, makan – makanan hasil karya mama di rumah. Tiba waktunya tuk seluruh umat islam saling mengunjungi tiap rumah ke rumah tuk saling bersilahturahmi, saling maaf memaafkan. Sekali lagi dan berkali – kali lagi. Wow…. Suhanallah ya? Sesuatu….. hehe

Yuk…. Mari sama – sama kita saling berintrospeksi atas perbuatan kita, sungkem ke ibu bapak kita dirumah, saling maaf memafkan itu baik dan segala yang baik itu membaikan,. Mari kita ciptakan setelah idul fitri hingga berjumpa ke idul fitri selanjutnya TETAP SEMANGAT IDUL FITRI, karena hari yang sangat baik adalah SELAMANYA HARI RAYA. Jadi jangan lagi Idul fitri ataupun Hari Raya Keagamaan lainnya seperti ceremony kosong sesaat yang berlalu tiap tahunnya tanpa makna dan tanpa arti. Ingat ya jangan sampai RAMADHAN SEBENTAR, LEBARAN PUN HANYA TERASA SEBENTAR DOANG. hehe 🙂

By: Budi Setyo Nugroho

Baca :  Cerita Sejarah Sepur Trutuk di Stasiun Pare, Berakhir 1975

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *