Salah satu wisata sejarah yang berada di Tulungagung adalah Candi Dadi. Daya tarik utama dari peninggalan ini adalah kutukan jomblo menjadi kepercayaan dari warga sekitar. Bagi pelancong luar daerah tentu saja akan merasa tertarik untuk mengunjunginya.

Lokasi dan Susunan Candi Dadi Tulungagung

Candi Dadi
Source: https://www.google.com/maps/@-8.1308495,111.9252004,16.19z?hl=en

Candi Dadi berlokasi di Dusun Mojo Desa Wajak Kidul Kec. Boyolangu Tulungagung. Candi tunggal ini berada tepat pada puncak pukit yang juga menympan kisah misteri dan dipercaya hingga saat ini. Mempunyai ketinggian pada 360 meter di atas permukaan laut di tengah area Kehutanan Kalidawir.

Candi Dadi ini sebenarnya merupakan bagian dari kompleks percandian. Hal ini karena di bagian selatannya masih merupakan perbukitan. Pada masing-masing puncak bukit tersebut memiliki satu buah candi sementara Candi Dadi berada di bukit paling tinggi.

Di puncak lain, ada beberapa candi secara berurutan yakni Candi Urung, Candi Buto dan Candi Gemali. Keempatnya membentuk candi berderat mulai dari paling rendah hingga tinggi. Kondisi ketiga candi di bawahnya saat ini hanya menyisakan puing-puing berserakan saja dan menyisakan Candi Dadi saja.

Baca juga : Candi Surawana: Cerita Sejarah dan Struktur Bangunan

Mitos Candi Dadi

Candi Dadi
Source: https://pict.sindonews.net/dyn/620/content/2018/03/01/29/1286236/misteri-dan-keunikan-candi-dadi-di-tulungagung-zOJ-thumb.jpg

Dari cerita yang beredar, Candi Dadi juga masih kental dengan aura mistis hingga keramat. Khususnya jika berhubungan pada asal-usulnya. Konon, ada seorang pangeran sengaja berkunjung ke Desa Kedungjalin. Tujuannya untuk melamar seorang putri cantik. Namun putri tersebut tidak ingin menerima lamarannya.

Karena tidak bisa menolaknya langsung, maka putri mengajukan sebuah syarat. Pangeran harus bisa membangun sebanyak 4 buah candi dalam waktu satu semalam saja. Menurut pangeran, hal tersebut bukan menjadi kesulitan. Saat candi keempat hampir selesai, putri meminta temannya menyembunyikan lesung.

Pangeran menyangkan jika hari sudah berganti hingga candi keempat tidak selesai. Candi ke-4 ini dinamai Candi Urung karena bentuknya belum sempurna. Urung dalam Bahasa Jawa artinya belum. Pangeran pun murka hingga mengutuk semua perempuan tidak akan bertemu jodohnya dan masih dipercaya saat ini.

Asal Usul Penamaan Candi Dadi dan Candi Sekitarnya

Candi Dadi
Source: https://www.gotravelly.com/assets/img/review/gallery/1143/5fdf5791d357c02724cfafc6d11720a0.jpg

Sesuai dengan namanya, Candi Dadi artinya sudah jadi dalam Bahasa Jawa. Asal usul penamaan tersebut karena candi ini merupakan satu-satunya candi yang selesai secara sempurna dibandingkan dengan candi di sekitarnya.

Salah satu candi lainnya adalah Candi Urung. Nama tersebut berasal dari Bahasa Jawa, artinya belum. Dari cerita beredar, pangeran yang mengetahui tipu muslihat dari putri untuk menolak lamarannya, langsung marah dan mengutuk desa tersebut agar semua perempuan tidak mendapatkan jodoh hingga usia tua.

Entah berhubungan atau tidak, sampai saat ini kebanyakan perempuan di daerah tersebut memang baru bisa mendapatkan pasangan ketika sudah mulai tua. Sementara penamaan Candi Buto adalah karena menurut masyarakat, dulu terdapat arca berukuran besar namun sudah tidak berbekas saat ini.

Bentuk, Keunikan dan Asal Usul Candi Dadi Tulungagung

Source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/wp-content/uploads/sites/33/2022/11/2-13.jpg

Candi Dadi adalah peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV sampai akhir XV. Candi ini memiliki latar belakang agama Hindu-Bunda dimana dulunya rakyat Majapahit mengasingkan diri dari daerah kerajaan. Berikut adalah beberapa keunikannya:

1. Bentuk Candi Dadi

Candi Dadi adalah candi tunggal yang tidak terdapat arca dan hiasannya. Denah candi tersebut memiliki ukuran panjang 14 meter dan lebar 14 meter. Sementara tingginya adalah 6,5 meter. Bangunan ini berbahan dasar dari batu andesit dan terdiri atas kaki candi dan batur.

Candi Dadi Tulungagung memiliki batur yang tinggi dan terlihat unik pada setiap sisinya. Sementara di bagian atas baturnya adalah kaki candi berbentuk segi delapan. Di permukaannya tampak bekas tembok berpenampang bulat dipercaya dulunya berfungsi sebagai sumber perairan untuk warga.

2. Sumur di Tengah-Tengah Candi

Source: https://bacaini.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-15-at-15.38.12.jpeg

Tepat di bagian tengahnya, Anda bisa melihat terdapat lubang yang cukup dalam. Sampai saat ini dipercaya fungsinya adalah sumur untuk perairan warga di zaman dahulu. Namun saat ini sudah tidak berfungsi lagi karena hanya dibiarkan sebagai tempat wisata sejarah saja.

Uniknya, sumur tersebut tidak akan pernah menggenang air meski sedang hujan deras. Hal ini karena air yang turun langsung menyerap ke dalam permukaan tanah. Sejak awal ditemukannya candi hingga saat ini, belum pernah dilakukan pemugaran sehingga bentuknya pun masih sama seperti zaman dulu.

3. Penelitian Candi Dadi

Beberapa peneliti pernah melakukan studi mengenai Candi Dadi oleh NJ Krom, PJ Veth, Hoepermans dan Haase. Di abad ke-19 pada laporan Belanda, disebut bahwa terdapat kelompok bangunan candi berjumlah lima. Lokasinya ada di lereng pegunungan Wajak atau sebutan lainnya adalah Walikukun Tulungagung.

Candi Dadi termasuk ke dalam lima kelompok yang ada pada laporan Belanda tersebut. Namun hingga saat ini hanya Candi Dadi saja masih tersisa. Sementara keempat lainnya sudah tidak lagi berbekas karena termakan oleh zaman.

4. Lokasi Candi Dadi di Puncak Bukit

Source: https://2.bp.blogspot.com/-gM0ZwT8_Ehc/VtxBiAGR7SI/AAAAAAAABuk/NSqWZYcFsrM/s1600/gapura%2Bmenuju%2Bcandi%2Bdadi.jpg

Candi Dadi yang berlokasi di puncak perbukitan akhirnya dihubungkan dengan kepercayaan warga Indonesia kuno bahwa tempat tersebut merupakan tanah suci. Tradisi ini masih dipercaya oleh mereka sejak dari zaman prasejarah. Masyarakat pun percaya jika arwah leluhur selalu berada di puncak gunung.

Berhubungan dengan anggapan tersebut, lingkungan sekitar di Candi Dadi memang terlihat sangat mendukung. Hal ini karena candi tersebut memang berada di puncak perbukitan. Selain itu langsung menghadap ke lembah Boyolangu di arah utaranya. Bentuk bangunan ini menunjukkan sebuah kemegahan.

5. Sebagai Tempat Pembakaran Jenazah dan Pengabuan Tokoh Penguasa

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan saja, muncul dugaan bahwa Candi Dadi juga memiliki fungsi lain yakni sebagai tempat pembakaran jenazah dan pengabuan pada tokoh penguasa saat itu. Namun latar belakang tentang pendiriannya secara keagamaan masih belum diketahui pasti.

Hal ini karena masih belum adanya penemuan data penunjang tentang latar belakang berdirinya candi tersebut. Namun sumur yang berada tepat di tengah bagian candi bisa menjadi petunjuk bahwa bangunan percandian tersebut berlatar gama Hindu. Perkiraannya adalah peninggalan dari abad XIV.

6. Sebagai Tempat Menjalankan Ibadah Agama Pasca Pemerintahan Hayam Wuruk

Candi Dadi
Source: https://etnis.id/content/images/2022/08/Halaman-depan-dari-jalur-masuk–Muhammad-Rizal-.jpg

Pembangunan dari Candi Dadi berkaitan pada ketidakstabilan kehidupan di Kerajaan Majapahit setelah pemerintahan oleh Hayam Wuruk di tahun 1350 hingga 1389. Peristiwa ini membuat rakyatnya memilih untuk mengasingkan diri masuk ke area perbukitan agar bisa menjalani ibadah agama dengan lebih tenang.

Peristiwa tersebut terjadi pada akhir abad antara 14 hingga akhir 15. Kepercayaan tentang asal usul ini juga berhubungan pada lokasi Candi Dadi yang berada di puncak bukit. Hal ini berhubungan dengan anggapan masyarakat setempat bahwa puncak perbukitan atau pegunungan adalah tempat suci.

Baca juga :  Sejarah Peninggalan Candi Sawentar Blitar yang Menyisakan Misteri

Ada banyak hal menarik tentang Candi Dadi. Mulai dari asal usul berdirinya hingga mitos kutukan jomblo di desa tersebut. Meskipun tidak seramai seperti wisata sejarah lainnya, namun candi ini memiliki cerita kelam yang menarik untuk Anda ketahui.

 

Bagikan: