Pare: Antara Sejarah, Kebudayaan dan Globalisasi

Kampung Pare. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar nama sebuah kawasan ini yang pada akhirnya Tuhan mempertemukan saya pada salah seorang informan sewaktu saya tengah penelitian pada skrispsi saya. Di sela-sela wawancara, saya bertanya pada informan apa rencana dia setelah sidang skripsi usai. Ia berujar bahwa ia ingin ke Kampung Inggris di Pare. Saya pun bertanya, ”Pare? Dimana dan kenapa di Pare?” Dia pun menjelaskan bahwa Pare adalah sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kediri dan lebih dikenal dengan nama Kampung Inggris. Dengan dipertemukannya saya dengan seorang informan ini seakan menjawab kesulitan saya, yang memang interest dengan bahasa Inggris namun masih kacau balau. Setelah saya searching via Google maka saya menarik kesimpulan bahwasanya Pare adalah tempat yang ideal untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris saya. Kampung Inggris Pare Antara Sejarah Kebudayaan dan Globalisasi

Tekad untuk mengembangkan kemampuan dalam bahasa Inggris semakin bulat setelah saya mendaftarkan diri ke sebuah lembaga kursus bahasa inggris melalui Visit Pare.com via online. Sebuah itikad baik akan selalu ditemani dengan perjuangan dan pengorbanan. Dan pada tanggal 31 Agustus tepatnya jam tujuh malam saya pun berangkat ke Tulungagung dan esoknya ke Pare guna pendaftaran. Did you know guys, saya berangkat malam-malam dengan menumpang sebuah truk beserta sepeda saya, but I’m enjoy it. Dini hari jam satu pagi saya sampai di Tulungagung yang memang di sana saya menumpang nginap di rumah om saya. Kemudian paginya pukul 08.00 wib saya pun langsung ke Kampung Pare.

Sebuah perjalanan yang tidak mudah memang karena belum pernah sama sekali ke Pare dan berkali-kali pun always get loss hahaha. Life is adventures, right? Pepatah bijak mengatakan, ”Fokus pada impian/tujuan, maka semesta yang akan mencarikan jalanmu”. Terbukti, akhirnya sampai juga tuh di Pare ^_^. Sesampai disana, memang buanyaak sekaleee (Don’t be lebay) lembaga-lembaga yang menawarkan kursus dari berbagai bahasa.

Seminggu setelah pendaftaran, maka kelas pun dimulai. Oh GOD!! Betapa nyamannya belajar dengan menyaksikan hamparan ladang yang luas dan angin yang sepoi-sepoi (Padahal rumah gue mepet sawah, ga beda-beda amat :D). Dengan suasana yang nyaman, santai tapi serius membuat materi yang disampaikan sangat mudah diterima ditambah lagi para tutor yang masih muda tapi berkompeten, bahkan umur masih dibawah saya. Dengan program Speaking dengan jadwal Full Time, maka hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Sangat tidak terasa karena dilalui dengan fun. Lagipula, lingkungan yang baru mewajibkan kita harus spoken english tiap hari yang merupakan sebuah upaya untuk membentuk new habit.

Oh ya, terbersit juga rasa bangga ketika berada disini karena teman-teman yang ada dalam lembaga belajar dan camp kami hampir berasal dari seluruh penjuru kota di Indonesia. Mulai dari Aceh, Padang, Bengkulu, Banten, Jekarda, Bekasi, Garut, Sumedang, Tegal, Cilacap, Blora, Jombang, Lumajang (saya sendiri), Jember, Banyuwangi, Makassar, Pontianak, Maluku dan Lombok. Saya pun berasumsi bahwasanya Pare mempunyai fungsi secara laten/tidak terlihat sebagai sebuah The Unity Place. Dengan bertemunya teman-teman dari seluruh penjuru kota di Indonesia memungkinkan terbentuknya asimilasi dan kesempatan untuk mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan dan pariwisata mereka. Sungguh memberikan manfaat yang multi dimensi bagi kita.

Setelah tiga minggu belajar, saya diberi tahu oleh salah satu tutor bahwa Kampung Inggris Pare adalah tempat penelitian bagi Clifford Geertz (Did you know guys who is he?). Sebagai seorang mahasiswa Sosiologi, saya cukup akrab mendengar nama beliau. Yap, dia adalah seorang antropolog dunia dengan bukunya yang terkenal yaitu The History of Java. Saya benar-benar tidak mengira kalau dia melakukan penelitian di tempat yang pernah menjadi rumah kedua saya. Pare, iya Pare :D. Poin dalam buku itu adalah ia membagi masyarakat Jawa ke dalam 3 bagian yaitu Santri, Abangan dan Priyayi.

Pare juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Majapahit denga adanya situs Candi Tegowangi. I think, Pare is more over complex than what I thinking. kampung inggris pare kediriPare, juga saya pikir mampu menjadi cikal bakal lahirnya beribu-ribu alumni yang mampu untuk berbicara lebih jauh mengenai persaingan di era globalisasi. Ya, kemampuan untuk berbahasa asing khususnya bahasa Inggris harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin bersaing di level internasional. Bahasa merupaka pondasi penting di era globalisasi ini. Anda dapat bertemu, berkenalan dan menjalin komunikasi dengan orang-orang hebat di seantero bumi ini.

Secara pribadi, saya menekankan bahasa sebagai kunci kemenangan dalam era ini karena pada tahun depan Indonesia akan menghadapai Asean Economic Community atau yang lebih dikenal dengan MEA (Masyarakat ekonomi Asean). Dengan bahasa, kita mampu untuk berkomunikasi dengan dunia luar, membaca literatur asing yang berkualitas dan banyak lagi. Ingat, kita terlahir dengan DNA pemenang. Kita adalah pemenang dari berjuta-juta sel sperma yang kemudian terciptalah anda. Percayalah, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. You are the winner.

Kembangkan apa yang ada dalam dirimu selagi masih muda. And the last say, “Focus on your goals, the Law Attractions will help you”. Demikian artikel singkat saya tentang Pare: Antara Sejarah Kebudayaan dan Globalisasi, semoga bermanfaat dan menambah wawasan tentang Pare. (Yunas Ananta Kusuma | @yunas_ananta91)

Bagikan ini: