7 Legenda dari Jawa Timur yang Mengandung Nilai Moral dan Budaya

Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang kental dengan kebudayaan. Tidak hanya mengenai musik atau tradisi khasnya, namun juga legenda yang memiliki jalan cerita menarik dan sarat makna. Tentu semua tahu bahwa legenda dari Jawa Timur sendiri sangat beragam.

Meskipun terkadang terkesan mengada-ada, namun sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil. Tidak heran, jika legenda seringkali diajarkan pada anak-anak untuk menambah wawasan dan mempelajari pesan moral yang terkandung di dalamnya.

7 Kumpulan Legenda dari Jawa Timur yang Mengandung Nilai Moral

Biasanya cerita tersebut diceritakan dan disebarkan secara lisan. Kemudian diwariskan juga dengan tradisional. Selengkapnya mengenai cerita rakyat atau legenda yang berasal dari Jawa Timur yang populer dan mengandung pesan moral dan nilai kebaikan, adalah sebagai berikut:

1. Asal Usul Reog Ponorogo

Legenda dari Jawa Timur ini memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Kediri. Terdapat seorang putri bernama Dewi Sanggalangit yang memiliki paras cantik. Ia mengadakan sayembara untuk menikahinya dengan persyaratan, tertentu yaitu mengadakan pertunjukan yang lengkap sesuai dengan permintaannya.

Karena persyaratan yang diajukan tampak sangat mustahil, maka semuanya mundur kecuali Singa Barong dan Kelana Swandana. Keduanya tampak saling serang, agar bisa memenangkan sayembara.

Kelana mengubah Singabarong menjadi harimau yang terdapat burung merah di kepalanya. Ia melakukan hal tersebut dengan menggunakan kekuatan sakti untuk bisa memenuhi sayembara dan kemudian putri kerajaan akhirnya memilih Kelana. Sejak itulah pertunjukan serupa terus digelar dengan nama Reog Ponorogo.

2. Jaka Prabangkara

Legenda dari Jawa Timur ini menceritakan tentang masa pemerintahan raja Majapahit yang bernama Prabu Dewaraja. Namun, Prabu Dewaraja sendiri lebih di kenal dengan nama Prabu Brawijaya V. Tokoh Prabangkara menggambarkan sikap dan perilaku manusia yang unggul.

Kemuliaannya, bukan hanya karena merupakan putra raja. Melainkan karena keahlian yang di miliki dan perilakunya yang mendekati sempurna. Kisah ini, baik untuk di ajarkan kepada anak-anak mengenai toleransi kehidupan yang multikultural.

Hal ini karena di kisahkan sejak zaman dahulu, sudah hidup berdampingan dalam keanekaragaman. Baik dari segi budaya, asal-usul, maupun agama. Dengan demikian, setiap anak akan belajar untuk toleransi sejak dini terhadap berbagai perbedaan.

3. Asal Usul Sungai Brantas yang Berkelok

Sungai ini merupakan sebuah sungai yang sangat panjang di Jawa Timur dan berkelok-kelok. Karena keindahannya, membuat banyak orang kagum. Namun di balik keindahannya, tersimpan legenda yang luar biasa di baliknya.

Konon dahulu, sang raja Kediri memiliki 2 putra yang ingin di berikan tahta sama besar. Kemudian tercetuslah ide untuk membagi kerajaan menjadi 2 bagian yang sama besar. Dengan ide tersebut kemudian terjadilah peristiwa yang membuat lahirnya sungai brantas ini.

4. Sura Alap-Alap & Ikan Tageh

Legenda dari Jawa Timur ini memiliki latar waktu ketika Indonesia dijajah oleh Belanda. Dikisahkan bahwa Sura Alap-Alap mendapatkan tugas untuk mengusir Belanda di Jawa Timur, namun ternyata pasukannya terlalu sedikit.

Karena takut banyak korban yang terbunuh, maka Sura Alap-Alap mengajak semua pasukan yang berisi penduduk pribumi untuk pergi. Namun secara ajaib ketika pasukan Belanda tiba di tempat pertempuran, mereka melihat banyak ikan tageh dan tidak ada pasukan yang bisa di perangi.

Alhasil mereka pun kemudian memutuskan untuk pergi. Sura Alap-Alap kemudian mengutus pasukan dan penduduk pribumi kembali ke dusun karena sudah aman. Sejak saat itu, Sura Alap-Alap memberikan perintah untuk menghormati ikan tageh.

Tidak boleh ada penduduk yang memakan ikan tersebut. Tentu saja karena ikan tageh tersebut sudah membantu mereka, agar terbebas dari serangan pasukan Belanda.

5. Ande-Ande Lumut

Legenda dari Jawa Timur ini sebenarnya hadir dalam beberapa versi. Versi pertama mengisahkan tentang seorang putri bernama Dewi Candra Kirana yang merasa sangat sedih. Kesedihannya tersebut di karenakan suaminya pergi.

Oleh karena itulah, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan berusaha mencari suaminya. Ia lalu menyamar menjadi seorang perempuan desa biasa. Di tengah penyamarannya, ia kemudian bertemu dengan Mbok Rondo Kawulusan, seorang janda kaya raya.

Kemudian datanglah kabar bahwa terdapat seorang pria tampan yang sedang mencari seorang istri, bernama Ande-Ande Lumut. Banyak gadis yang mendaftar termasuk anak-anak Mbok Rondo. Dewi Candra Kirana sendiri di angkat sebagai anak dan di beri nama Klenting Kuning.

Untuk versi kedua mengisahkan sebuah kerajaan yang ingin di persatukan dengan menikahkan pangeran dari kerajaan Jenggala dan putri dari kerajaan Kediri. Raden Panji Asmarabangun dari Kerajaan Kediri sedangkan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri.

6. Asal Usul Gunung Arjuna

Gunung Arjuna

 

Legenda dari Jawa Timur ini bermula dari kisah seorang pendekar sakti bernama Arjuna. Arjuna kemudian menjadi pertapa di puncak gunung. Karena keseriusannya dalam bertapa, Arjuna menjadikan gunung tersebut semakin tinggi hingga mendekati kayangan.

Batara Guru kemudian meminta Bathara Semar yang merupakan pengasuh Arjuna untuk menghentikan pertapaan. Hal ini karena Batara Guru merasakan gempa di sekitar kayangan. Begitu tiba di tempat pertapaan Arjuna, terkejut karena melihat gunung yang sangat tinggi  menjulang di depannya.

Bathara Semar bersama Togop bersemedi di kaki gunung, hingga tidak lama badan mereka semakin membesar menyamai gunung tersebut. kemudian mereka memotong gunung dan melempar ke sisi utara. Hal tersebut kemudian membuat Arjuna tersadar dari pertapaannya.

Pada bagian gunung yang dipotong tersebut kemudian diberi nama Gunung Arjuna. Letaknya sendiri berada di perbatasan Malang dan Pasuruan.

7. Asal-Usul Banyuwangi

Legenda dari Jawa Timur menceritakan tentang kerajaan besar di ujung timur Pulau Jawa, yaitu Blambangan. Kerajaan ini diperintahkan oleh Raja Silahadikrama yang memiliki watak tamak dan rakus. Tidak hanya kepada harta, namun juga perempuan.

Setiap kali melihat perempuan dengan paras cantik, maka ia ingin memiliki tanpa peduli status perempuan tersebut. Singkat cerita, patih raja bernama Patih Sidapeksa memiliki istri cantik bernama Sri Tanjung.

Untuk merebut istri sang Patih kemudian berniat untuk menyingkirkan patihnya dengan cara halus. Patih di perintahkan untuk mencari tumbal di Alas Purwo berupa sebongkah emas sebesar konde wanita dan 3 buah mahkota.

Berbagai cara di lakukan raja untuk menggoda Sri Tanjung, namun tidak pernah berhasil. Kekecewaan dan kekesalan raja semakin bertambah ketika patihnya berhasil membawa tumbal yang diminta dengan kondisi selamat.

Tidak tinggal diam, raja berusaha memfitnah Sri Tanjung berselingkuh dengan laki-laki lain selama patih pergi. Karena tidak percaya dengan penuturan Sri Tanjung, Patih Sidapeksa kemudian meminta bukti mengenai hal tersebut.

Untuk itulah, Sri Tanjung kemudian mengajaknya ke sebuah telaga kecil. Apabila ia bersalah, maka telaga tersebut akan berbau busuk, begitu juga sebaliknya. Setelah menceburkan diri, muncullah aroma harum dari telaga dan hingga kini wilayah tersebut dinamakan Banyuwangi.

Itulah beberapa Legenda dari Jawa Timur yang mengandung pesan moral. Cerita di atas sangat bagus di bacakan pada anak-anak ketika akan tidur atau di ajarkan di sekolah. Banyaknya pesan yang ada di dalam cerita, akan memberikan pengaruh yang positif juga terhadap pembaca.

Tinggalkan komentar